Senin, 31 Oktober 2011

Ilmu Jiwa Belajar PAI

BAB I
PENDAHULUAN

Ilmu Pengetahuan yang diperoleh melalui proses belajar, tidak hanya dilakukan di bangku sekolah (pendidikan formal), tetapi juga dilakukan di luar bangku sekolah (pendidikan non-formal) terutama nampak dalam hubungan antar manusia yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari sehingga perlu adanya proses belajar untuk membantu mengembangkan kemampuan. Pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dikembangkan melalui kajian ini ditunjukan untuk mencapai keserasian dan keselarasan dalam kehidupan masyarakat.
Dalam belajar, manusia selalu berusaha menggunakan segala potensi yang ada dan dimilikinya, baik fisik maupun spikis, ia mempunyai faktor – faktor yang bisa mendorong manusia untuk giat dan rajin belajar demi memperoleh kecerdasan/pengetahuan yang diperlukannya. Faktor itu bisa berupa faktor internal dan juga faktor eksternal. Faktor internal adalah kesadaran dari diri seseorang sendiri untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan termasuk kecerdasan, sedangkan faktor eksternal adalah suatu dorongan atau motivasi dari orang lain atau lingkungan sekitar yang menyebabkan seseorang itu giat dan rajin untuk memperoleh suatu pengetahuan.
Kecerdasan yang diperoleh dengan belajar baik dari pendidikan formal maupun pendidikan non formal menghasilkan berbagai macam kecerdasan antara lain bisa berupa kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, kecerdasan sosial serta kecerdasan bahasa dan sebagainya yang tentu sangat bermanfaat untuk kehidupan manusia di masyarakat. Untuk itu kami ingin mengupas tentang seberapa besar pengaruh belajar terhadap kecerdasan, dan seberapa pentingkah belajar untuk menemani perjalanan hidup manusia di dunia? Untuk lebih jelaskan kami akan bahas pada bab berikutnya.

BAB II
PENGARUH BELAJAR TERHADAP KECERASAN

Belajar adalah suatu usaha untuk mencari ilmu pengetahuan dengan cara mempelajari lewat buku-buku, menerima pelajaran disekolah baik formal maupun non formal. Jadi belajar adalah suatu usaha untuk memperoleh kepandaian (kecerdasan) dan pemahaman, sehingga ada perubahan yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, yang hal itu disebabkan oleh adanya pengalaman. Manusia tidak akan memperoleh suatu pengetahuan jika ia tidak melakukan aktifitas yang disebut dengan belajar. Dari pengertian diatas dapat dikatakan yang dimaksud dengan belajar adalah suatu proses yang berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap situasi yang disebabkan oleh pengalamannya secara berulang-ulang dalam situasi dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau keadaan sesaat seseorang (misalnya : kelelahan, kebingungan dan lain sebagainya).
Faktor faktor yang mempengaruhi proses belajar : Secara umum factor-faktor yang mempengaruhi proses hasil belajar dibedakan atas dua kategori, yaitu factor internal dan factor eksternal. kedua factor tersebut saling mempengaruhi dalam proses individu sehingga menentukan kualitas hasil belajar.
A. Faktor Internal
Factor internal adalah factor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu. Factor-faktor internal ini meliputi factor fisiologis dan factor psikologis.
1. Factor fisiologis
Factor-faktor fisiologis adalah factor-factor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Factor-factor ini dibedakan menjadi dua macam.
Pertama, keadaan fisik/jasmani. Keadaan fisik/jasmani pada umumnya sangat memengaruhi aktivitas belajar seseorang . kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan belajar individu. Sebaliknya, kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. Oleh karena itu keadaan fisik/jasmani sangat mempengaruhi proses belajar. Kedua, keadaan fungsi jasmani/fisiologis. Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi fisiologis pada tubuh manusia sangat mempengaruhi hasil belajar, terutama panca indra. Panca indra yang berfungsi dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar dengan baik pula. dalam proses belajar, merupakan pintu masuk bagi segala informasi yang diterima dan ditangkap oleh manusia. Sehingga manusia dapat menangkap dunia luar. Panca indra yang memiliki peran besar dalam aktivitas belajar adalah mata dan telinga.
2. Factor psikologis
Factor –faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat mempengaruhi proses belajar. Beberapa factor psikologis yang utama mempengaruhi proses belajar adalah motifasi, minat, sikap dan bakat.
a) Motivasi
Motivasi adalah salah satu factor yang mempengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa. Motivasilah yang mendorong siswa ingin melakukan kegiatan belajar. Para ahli psikologi mendefinisikan motivasi sebagai proses di dalam diri individu yang aktif, mendorong, memberikan arah, dan menjaga perilaku setiap saat. Motivasi juga diartikan sebagai pengaruh kebutuhan-kebutuhan dan keinginan terhadap intensitas dan arah perilaku seseorang. Dari sudut sumbernya motivasi dibagi menjadi dua, yaitu motivasi intrinsic dan motivasi ekstrinsik.
Motivasi intrinsic adalah semua factor yang berasal dari dalam diri individu dan memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu. Seperti seorang siswa yang gemar membaca, maka ia tidak perlu disuruh-suruh untuk membaca, karena membaca tidak hanya menjadi aktifitas kesenangannya, tapi bisa jadi juga telah mejadi kebutuhannya. Motivasi ekstrinsik adalah factor yang datang dari luar diri individu tetapi memberi pengaruh terhadap kemauan untuk belajar. Seperti pujian, peraturan, tata tertib, teladan guru, orangtua, dan lain sebagainya.

b) Minat
Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Dalam konteks belajar di kelas, seorang guru atau pendidik lainnya perlu membangkitkan minat siswa agar tertarik terhadap materi pelajaran yang akan dihadapinya atau dipelajarinya.
c) Sikap
Dalam proses belajar, sikap individu dapat mempengaruhi keberhasilan proses belajarnya. Sikap adalah gejala internal yang mendimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons dengan cara yang relative tetap terhadap obyek, orang, peristiwa dan sebagainya, baik secara positif maupun negative. Sikap siswa dalam belajar dapat dipengaruhi oleh perasaan senang atau tidak senang pada performan guru, pelajaran, atau lingkungan sekitarnya. Dan untuk mengantisipasi munculnya sikap yang negative dalam belajar, guru sebaiknya berusaha untuk menjadi guru yang professional dan bertanggungjawab terhadap profesi yang dipilihnya.
d) Bakat
Faktor psikologis lain yang mempengaruhi proses belajar adalah bakat. Secara umum, bakat (aptitude) didefinisikan sebagai kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Berkaitan dengan belajar, Slavin mendefinisikan bakat sebagai kemampuan umum yang dimiliki seorang siswa untuk belajar. Dengan demikian, bakat adalah kemampuan seseorang menjadi salah satu komponen yang diperlukan dalam proses belajar seseorang. Apabila bakat seseorang sesuai dengan bidang yang sedang dipelajarinya, maka bakat itu akan mendukung proses belajarnya sehingga kemungkinan besar ia akan berhasil.
B. Factor eksogen/eksternal
Selain karakteristik siswa atau factor-faktor endogen, factor-faktor eksternal juga dapat mempengaruhi proses belajar siswa. Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu factor lingkungan social dan factor lingkungan non sosial.
1) Lingkungan social
Lingkungan social sekolah, seperti guru, administrasi, dan teman-teman sekelas dapat memengaruhi proses belajar seorang siswa. Hubungan harmonis antara ketiganya dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baik di sekolah. Perilaku yang simpatik dan dapat menjadi teladan seorang guru atau administrasi dapat menjadi pendorong bagi siswa untuk belajar.
Lingkungan social masyarakat. Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa akan mempengaruhi belajar siswa. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengangguran dan anak terlantar juga dapat mempengaruhi aktivitas belajar siswa, paling tidak siswa kesulitan ketika memerlukan teman belajar, diskusi, atau meminjam alat-alat belajar yang kebetulan belum dimilkinya.
Lingkungan social keluarga. Lingkungan ini sangat mempengaruhi kegiatan belajar. Ketegangan keluarga, sifat-sifat orang tua, demografi keluarga (letak rumah), pengelolaan keluarga, semuanya dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar siswa. Hubungan antara anggota keluarga, orangtua, anak, kakak, atau adik yang harmonis akan membantu siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik.
2) Lingkungan non social.
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial adalah : Pertama Lingkungan alamiah, seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar yang tidak terlalu silau/kuat, atau tidak terlalu lemah/gelap, suasana yang sejuk dan tenang. Lingkungan alamiah tersebut merupakan factor-faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas belajar siswa. Kedua Factor instrumental, yaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan dua macam. Pertama, hardware, seperti gedung sekolah, alat-alat belajar, fasilitas belajar, lapangan olah raga dan lain sebagainya. Kedua, software, seperti kurikulum sekolah, peraturan-peraturan sekolah, buku panduan, silabi dan lain sebagainya.
Selanjutnya adalah mengenai Kecerdasan / Intelegensia Siswa.
Pada umumnya kecerdasan diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik dalam mereaksikan rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui cara yang tepat. Dengan demikian, kecerdasan bukan hanya berkaitan dengan kualitas otak saja, tetapi juga organ-organ tubuh lainnya. Namun bila dikaitkan dengan kecerdasan, tentunya otak merupakan organ yang penting dibandingkan organ yang lain, karena fungsi otak itu sebagai organ pengendali tertinggi (executive control) dari hampir seluruh aktivitas manusia. Menurut Maclean, otak manusia memiliki tiga bagian dasar yang seluruhnya dikenal sebagai triune brain/three in one brain. Bagian pertama adalah batang otak, bagian kedua sistem limbik dan yang ketiga adalah neokorteks . Kecerdasan dapat juga diartikan sebagai kapasitas seseorang untuk memperoleh pengetahuan (yakni belajar dan memahami), mengaplikasikan pengetahuan (memecahkan masalah), dan melakukan penalaran abstrak .
Kecerdasan dapat dibagi dalam tiga macam kecerdasan , yang dapat kami jelaskan sebagai berikut :
a) IQ (Intelligent Quotient )
IQ ( Intelligent Quotient) merupakan tingkat kecerdasan manusia yang ditinjau dari kecerdasan intelektual, berupa kemampuan intelektual, analisa, logika dan rasio. Ia merupakan kecerdasan untuk menerima, menyimpan dan mengolah infomasi menjadi fakta. Orang yang kecerdasan intelektualnya baik, baginya tidak ada informasi yang sulit, semuanya dapat disimpan dan diolah, pada waktu yang tepat dan pada saat dibutuhkan diolah dan diinformasikan kembali. Proses menerima , menyimpan, dan mengolah kembali informasi, (baik informasi yang didapat lewat pendengaran, penglihatan atau penciuman) biasa disebut "berfikir".
b) EQ ( Emotional Quotient )
EQ ( Emotional Quotient) merupakan tingkat kecerdasan manusia yang ditinjau dari kecerdasan emosional, berupa kemampuan merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi koneksi dan pengaruh yang manusiawi. Dapat dikatakan bahwa EQ adalah kemampuan mendengar suara hati sebagai sumber informasi. Untuk pemilik EQ yang baik, baginya infomasi tidak hanya didapat lewat panca indra semata, tetapi ada sumber yang lain, dari dalam dirinya sendiri yakni suara hati. Malahan sumber infomasi yang disebut terakhir akan menyaring dan memilah informasi yang didapat dari panca indra.
Substansi dari kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan dan memahami untuk kemudian disikapi secara manusiawi. Orang yang EQ-nya baik, dapat memahami perasaan orang lain, dapat membaca yang tersurat dan yang tersirat, dapat menangkap bahasa verbal dan non verbal. Semua pemahaman tersebut akan menuntunnya agar bersikap sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan lingkungannya, dapat dimengerti kenapa orang yang EQ-nya baik, sekaligus kehidupan sosialnya juga baik.
c) SQ (Spiritual Quotient )
SQ ( Spiritual Quotient ) merupakan tingkat kecerdasan manusia yang ditinjau dari kecerdasan spiritual berupa kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yakni kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas. Kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding dengan yang lain. Dapat juga dikatakan bahwa kecerdasan spiritual merupakan kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah- langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah dalam upaya menggapai kualitas hanif dan ikhlas. SQ adalah suara hati Ilahiyah yang memotivasi seseorang untuk berbuat atau tidak berbuat .

BAB III
PENUTUP

Dari penjelasan diatas yang dapat kami simpulkan adalah Kecerdasan merupakan factor psikologis yang paling penting dalam proses belajar siswa, karena itu menentukan kualitas belajar siswa. Semakin tinggi inteligensi (kecerdasan) seorang individu, semakin besar peluang individu tersebut meraih sukses dalam belajar. Sebaliknya, semakin rendah tingkat intelegensi (kecerdasan) individu, semakin sulit individu itu mencapai kesuksesan belajar. Oleh karena itu, perlu bimbingan belajar dari orang lain, seperti guru, orang tua, dan lain sebagainya untuk memperoleh hasil belajar yang maksimal. Namun yang perlu diingat, dalam belajar, masing-masing individu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam menyerap pengetahuan/pelajaran yang diberikan, sehingga dalam setiap individu juga terdapat perbedaan dalam hal kecerdasannya. Karena belajar itu sangat mempengaruhi kepandaian/kecerdasan seseorang sehingga jika setiap individu memiliki daya tangkap yang berbeda maka kecerdasan/kepandaian yang diperoleh juga berbeda.
Manusia yang sudah belajar terus namun belum juga memperoleh kecerdasan/pengetahuan, itu berarti kualitas otak (tingkat kecerdasan) individu itu perlu dipertanyakan. Tingkat kecerdasan manusia itu dapat dibagi atas beberapa bagian :
1) Kelompok kecerdasan lemah mental (mentally defective) berada pada IQ 20—IQ 69, yang termasuk dalam kecerdasan tingkat ini antara lain debil, imbisil, idiot.
2) Kelompok batas lemah mental (borderline defective) berada pada IQ 70—IQ 79
3) Kelompok rata-rata rendah (low average) merentang antara IQ 80—IQ 89
4) Kelompok rata-rata (average) merentang antara IQ 90—IQ 109
5) Kelompok rata-rata tinggi (high average) merentang anatara IQ 110—IQ 119
6) Kelompok kecerdasan superior merenytang anatara IQ 120—IQ 139
7) Kelompok kecerdasan amat superior (very superior) merentang antara IQ 140—IQ 169
Informasi tentang taraf kecerdasan seseorang merupakan hal yang sangat berharga untuk memprediksi kemampuan belajar seseorang. Pemahaman terhadap tingkat kecerdasan peserta didik akan membantu mengarahkan dan merencanakan bantuan yang akan diberikan kepada siswa. Jadi, belajar dan kecerdasan itu memiliki hubungan yang sangat dekat yakni untuk memperoleh kecerdasan manusia perlu belajar dan untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal, manusia juga perlu mengetahui tingkat kecerdasannya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Admin, “Kecerdasan Emosional, Moral, Spiritual” (online) http://educasi. kompasiana.com/ 2010/12/07/kecerdasan-emosional-moral-spiritual/ diakses pada tanggal 28 Maret 2011
2. George Boeree, “Metode pembelajaran dan pengajaran”, (Yogyakarta : Ar ruzz Media, 2009)
3. Oemar Hamalik, “Proses Belajar Mengajar”, (Jakarta: Bumi Aksara,2009)
4. Radix Hidayat “Faktor-faktor Pendukung Kegiatan Belajar” (online) http://rumah belajaritb.wordpress.com / 2008/07/17/faktor-faktor-pendukung-kegiatan-belajar/ di akses pada tanggal 28 Maret 2011
5. Sardiman, “interaksi & Motivasi Belajar Mengajar”, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001)
6. Yasin Nur Falah, “Bahan Ajar Ilmu Jiwa Belajar PAI”, (Kediri: IAIT Press, 2008)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar