Rabu, 02 November 2011

Psikologi pada Orang Dewasa dan Usia Lanjut

PERKEMBANGAN JIWA AGAMA
PADA ORANG DEWASA DAN USIA LANJUT

A. Pengertian Dewasa dan Ciri-ciri Kedewasaan

Saat telah menginjak usia dewasa terlihat adanya kematangan jiwa mereka; “Saya hidup dan saya tahu untuk apa,” menggambarkan bahwa di usia dewasa orang sudah memiliki tanggung jawab serta sudah menyadari makna hidup. Dengan kata lain, orang dewasa nilai-nilai yang yang dipilihnya dan berusaha untuk mempertahankan nilai-nilai yang dipilihnya.
Elizabeth B. Hurlock membagi masa dewasa menjadi tiga bagian

1. Masa dewasa awal (masa dewasa dini/young adult)
Masa dewasa awal adalah masa pencaharian kemantapan dan masa reproduktif yaitu suatu masa yang penuh dengan masalah dan ketegangan emosional, priode isolasi social, priode komitmen dan masa ketergantungan, perubahan nilai-nilai, kreativitas dan penyesuaian diri pada pola hidup yang baru. Kisaran umurnya antara 21 tahun sampai 40 tahun.

2. Masa dewasa madya (middle adulthood)
Masa dewasa madya ini berlangsung dari umur 40 sampai 60 tahun. Ciri-ciri yang menyangkut pribadi dan social antara lain; masa dewasa madya merupakan masa transisi, dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan prilaku masa dewasanya dan memasuki suatu priode dalam kehidupan dengan ciri-ciri jasmani dan prilaku yang baru. Perhatian terhadap agama lebih besar dibandingkan dengan masa sebelumnya, dan kadang-kadang minat dan perhatiannya terhadap agama ini dilandasi kebutuhan pribadi dan sosial

3. Masa usia lanjut (masa tua/older adult)
Usia lanjut adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Masa ini dimulai dari umur enam puluh tahun sampai mati, yang ditandai dengan adanya perubahan yang bersifat fisik dan psikologis yang semakin menurun.
Adapun ciri-ciri yang berkaitan dengan penyesuaian pribadi dan sosialnya adalah sebagai berikut; perubahan yang menyangkut kemampuan motorik, peruban kekuatan fisik, perubahan dalam fungsi psikologis, perubahan dalam system syaraf, perubahan penampilan.

B. Karakteristik Sikap Keberagamaan Pada Masa Dewasa

Sejalan dengan tingkat perkembangan usianya, maka sikap keberagamaan pada orang dewasa

antara lain memiliki ciri sebagai berikut:

1. Menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, bukan sekedar ikut-ikutan.

2. Cenderung bersifat realitas, sehinggga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku.

3. Bersikap positif terhadap ajaran dan norma-norma agama, dan berusaha untuk mempelajari dan memperdalam pemahaman keagamaan.

4. Tingkat ketaatan beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri hingga sikap keberagamaan merupakan realisasi dari sikap hidup.

5. Bersikap lebih terbuaka dan wawasan yang lebih luas.

6. Bersikap lebih kritis terhadap materi ajaran agama sehingga kemantapan beragama selain didasarkan atas pertimbangan pikiran, juga didasarkan atas pertimbangan hati nurani.

7. Sikap keberagamaan cenderung mengarah kepada tipe-tipe kepribadian masing-masing, sehingga terlihat adanya pengaruh kepribadian dalam menerima, memahami serta melaksanakan ajaran agama yang diyakininya.

8. Terlihat adanya hubungan antar sikap keberagamaan dengan kehidupan social, sehingga perhatian terhadap kepentingan organisasi sosial keagamaan sudah berkembang

C. Kriteria Orang yang Matang dalam Beragama
Kemampuan seseorang untuk mengenali atau memahami nilai agama yang terletak pada nilai-nilai luhurnya serta menjadikan nilai-nilai dalam bersikap dan bertingkah laku merupakan ciri dari kematangan beragama. Jadi, kematangan beragama terlihat dari kemampuan seseorang untuk memahami, menghayati serta serta mengaplikasikan nilai-nilai luhur agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam bukunya The Varieties Of Religious Experience William James menilai secara garis besar sikap dan prilaku keagamaan itu dapat dikelompokkan menjadi dua tipe, yaitu:

1. Tipe Orang yang Sakit Jiwa (The Sick Soul)
Menurut William James,sikap keberagamaan orang yang sakit jiwa ini ditemui pada mereka yang pernah mengalami latar belakang kehidupan keagamaan yang terganggu. Maksudnya orang tersebut meyakini suatu agama dan melaksanakan ajaran agama tidak didasarkan atas kematangan beragama yang berkembang secara bertahap sejak usia kanak-kanak hingga menginjak usia dewasa seperti lazimnya yang terjadi pada perkembangan secara normal. Mereka meyakini suatu agama dikarenakan oleh adanya penderitaan batin antara lain mungkin diakibatkan oleh musibah, konflik batin ataupun sebab lainnya yang sulit diungkapkan secara ilmiah.
Adapun ciri-ciri tindak keagamaan mereka yang mengalami kelainan kejiwaan itu umumnya cenderung menampilkan sikap:

- Pesimis
Dalam mengamalkan ajaran agama mereka cenderung bersikap pasrah diri kepada nasib yang telah mereka terima.
- Intovert
Sifat pesimis membawa mereka untuk bersikap objektif. Segala marabahaya dan penderitaan selalu dihubungkannya dengan kesalahan diri dan dosa yang telah diperbuat.
- Menyenagi paham yang ortodoks.
Sebagai pengaruh sifat pesimis dan introvert kehidupan jiwanya menjadi pasif. Hal ini lebih mendorong mereka untuk menyenangi paham keagamaan yang lebih konservatif dan ortodoks.

2. Tipe Orang yang Sehat Jiwa (Healthy-Minded-Ness)
Ciri dan sifat agama pada orang yang sehat jiwa menurut W. Starbuck yang dikemukakan oleh W. Houston Clark dalm bukunya Religion Psychology adalah:

- Optimis dan gembira
Orang yang sehat jiwa menghayati segala bentuk ajaran agama dengan perasaan optimis. Pahala menurut pandangannya adalah sebagai hasil jerih payah yang diberikan Tuhan. Sebaliknya, segala bentuk musibah dan penderitaan yang dianggap sebagai keteledoran dan kesalahan yang dibuatnya dan tidak beranggapan sebagai peringatan Tuhan terhadap dosa manusia.
- Ektrovet dan tak mendalam
Sikap optimis dan terbuka yang dimiliki orang yang sehat jasmani ini menyebabkan mereka mudah melupakankesan-kesan buruk dan luka hati yang tergores sebagai ekses agamis tindakannya.
- Menyenangi ajaran ketauhidan yang liberal
Sebagai pengaruh kepribadaian yang ekstrovet maka mereka cenderung;
1) Menyenangi teologi yang luwes dan tidak kakuk
2) Menunjukkan tingkah laku keagamaan yang lebih bebas
3) Mempelopori pembelaan terhadap kepentingan agama secara sosial.

D. Masalah-masalah Keberagamaan Pada Masa Dewasa
Seorang ahli psikologi Lewis Sherril, membagi masalah-masalah keberagamaan pada masa dewasa sebagai berikut;
1. Masa dewasa awal, masalah yang dihadapi adalah memilih arah hidup yang akan diambildengan menghadapi godaan berbagai kemungkinan pilihan.
2. Masa dewasa tengah, masalah sentaral pada masa ini adalah mencapai pandangan hidup yang matang dan utuh yang dapat menjadi dasar dalam membuat keputusan secara konsisten.
3. Masa dewasa akhir, ciri utamanya adalah ‘pasrah’. Pada masa ini, minat dan kegiatan kurang beragama. Hidup menjadi kurang rumit dan lebih berpusat pada hal-hal yang sungguh-sungguh berarti. Kesederhanaan lebih sangat menonjol pada usia tua.

KONVERSI AGAMA

Konversi agama menurut etimologi berasal dari kata lain “conversio” yang berarti tobat, pindah dan berubah (agama) sedangkan menurut terminologi konversi agama adalah suatu tindakan dimana seseorang atau sekelompok orang masuk atau berpindah ke suatu sistem kepercayaan atau perilaku yang berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya (Max Heirich). Konversi agama banyak menyangkut masalah kejiwaan dan pengaruh lingkungan tempat berada. Selain itu, konvensi agama yang dimaksudkan diuraikan dengan beberapa teori.

  1. Adanya perubahan arah pandangan dan keyakinan seseorang terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya
  2. Perubahan yang terjadi dipengaruhi kondisi kejiwaan, sehingga perubahan dapat terjadi secara berproses atau secara mendadak
  3. Perubahan tersebut bukan hanya berlaku bagi perpindahan kepercayaan dari suatu agama ke agama lain, tapi juga termasuk perubahan pandangan terhadap agama yang dianutnya sendiri
  4. Selain faktor kejiwaan dan kondisi lingkungan, maka perubahan itupun disebabkan faktor petunjuk dari Yang Maha Kuasa.

Menurut Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat yang dimaksud dengan Konversi Agama adalah terjadinya suatu perubahan keyakinan yang berlawanan arah dengan keyakinan semula. Di dalam mengalami konversi agama, prosesnya berbeda antara yang satu dengan yang lainnya sesuai dengan pertumbuhan jiwa yang dilaluinya serta pengalaman dan pendidikan yang diterimanya sejak kecil, di tambah lagi dengan suasana lingkungan dia hidup dan pengalaman terakhir yang menjadi puncak perubahan keyakinan itu.

Proses – proses jiwa tersebut yaitu :

  • Masa Tenang , yaitu sebelum mengalami konversi, jiwa seseorang tenang karena masalah agama belum mempengaruhinya.
  • Masa Ketidaktenangan, yaitu masa dimana masalah-masalah agama mulai mempengaruhi batin seseorang, bisa dikarenakan krisi, musibah ataupun perasaan berdosa yang dialaminya, sehingga terjadinya konflik dan pertentangan batin berkecamuk dalam hatinya. Perasaan-perasaan ini mengakibatkan seseorang menjadi lebih sensitive.
  • Masa Konversi, terjadi setelah konflik batin mengalami keredaan karena kemantapan batin telah terpenuhi berupa kemampuan menentukan keputusan untuk memilih.
  • Keadaan Tenteram dan Tenang, yaitu timbulnya perasaan atau kondisi jiwa yang baru, dimana jiwa merasa tenang dan tenteram yang timbul dari rasa puas terhadap keputusan yang sudah diambil.
  • Ekspresi Konversi dalam hidup, yaitu pengungkapan konversi agama dalam tindak – tanduk perlakuan, sikap dan perkataan dan seluruh jalan hidupnya berubah mengikuti aturan – aturan ajaran agama.

Proses konversi agama menurut M.T.L Penido mengandung dua unsur, pertama unsur dalam diri (endogenos origin) yaitu proses perubahan yang terjadi dalam diri seseorang atau kelompok. Konversi yang terjadi dalam batin ini, membentuk suatu kesadaran untuk mengadakan suatu transformasi yang disebabkan oleh krisis yang terjadi dan keputusan yang diambil berdasarkan pertimbangan pribadi. Kedua, unsur dari luar (exogenous origin), yaitu proses perubahan yang berasal dari luar diri atau kelompok sehingga mampu menguasai diri atau kelompok yang bersangkutan.

Diatas telah disebutkan bahwa konversi agama yang dialami seseorang dapat terjadi secara langsung ataupun secara bertahap. Salah satu kerangka perubahan keyakinan seseorang yang terjadi secara bertahap dikemukakan oleh H. Carrier, yaitu :

1. Terjadi desintegrasi sintesis kognitif dan motivasi sebagai akibat dari krisis yang dialami

2. Reintegrasi kepribadian berdasar kan konsepsi agama yang baru

3. Tumbuh sikap agama menerima konsepsi agama yang baru serta peranan yang dituntut oleh ajarannya

4. Timbul kesadaran bahwa keadaan yang baru itu merupakan panggilan suci petunjuk Tuhan.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Konversi Agama

A. Pertentangan batin dan ketegangan perasaan yaitu tidak mampunya seseorang mematuhi nilai-nilai moral dan agama dalam hidupnya. Di samping itu sering juga terasa memukul jiwa, merasa tidak tenteram, gelisah yang kadang – kadang diketahui sebabnya dan kadang – kadang tidak diketahui.

B. Pengaruh hubungan social, diantaranya yang mendorong konversi agama adalah :

· Pengaruh kebiasaan yang rutin, misalnya menghadiri upacara keagamaan.

· Pengaruh anjuran atau ajakan dari orang –orang dekat, misalnya keluarga, kerabat

· Pengaruh kekuasaan pemimpin, maksudnya adalah berdasarkan kekuatan hukum

· Pengaruh pemimpin keagamaan, dengan memiliki hubungan yang baik dengan pemimpin agama menjadi faktor yang kuat dalam konversi agama

A. Faktor emosi, penelitian G. Stanley Hall factor ini banyak terjadi pada usia remaja, karena pada masa ini terkenal dengan kegoncangan emosi yang dapat mendorong terjadinya konversi agama.

B. Faktor kemauan (Imam Al-Gazali), kemauan memiliki peran penting dalam terjadinya konversi agama. Terbukti bahwa konversi terjadi sebagai hasil dari pertentangan batin yang mengalami konversi.

Starbuck, membagi 2 tipe konversi agama, yaitu :

  1. Tipe Volitional, konversi agama tipe ini terjadi secara bertahap, sedikit demi sedikit sehingga kemudian menjadi seperangkat aspek dan kebiasaan rohani yang baru.
  2. Tipe Selp-Surrender, tipe ini merupakan konversi agama yang terjadi secara drastis atau mendadak. Seseorang tanpa mengalami suatu proses tertentu tiba-tiba mengalami perubahan keyakinan dan pendiriannya terhadap suatu agama. Dari tidak percaya menjadi percaya, tidak taat menjadi taat.

C. KESIMPULAN

Konversi agama adalah proses dari sikap tidak peduli terhadap norma Agama, hingga penerimaan suatu sikap keberagamaan, proses itu bisa terjadi secara bertahap atau tiba-tiba. Proses ini menyangkut perubahan batin seseorang secara mendasar.

Menurut kajian psikologi agama, terjadinya perubahan arah dalam keyakinan seseorang tidak akan lepas dari penyebab utamanya, yaitu karena petunjuk atau Hidayat Ilahi, akibat penderitaan batin ataupun pilihan sendiri setelah melalui pertimbangan yang masak. Di awal-awal terjadinya perubahan tersebut, setiap diri merasakan kegelisahan batin. Sehingga sulit untuk memutuskan secara spontan mana yang harus diikuti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar